New Start New Mind
Rabies Terminator? Apaan lagi tuch? Apakah ini seri terakhir dari film Terminator? Rabies Terminator adalah team yang beranggotakan mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Udayana, alumni dan staff dosen untuk mencegah penularan rabies di Bali. Adapun kegiatannya adalah mendukung program pemerintah dengan melakukan vaksinasi di berbagai daerah di Bali.
Berikut ini adalah pengalaman saya dan teman-teman FKH selama mengikuti kegiatan vaksinasi keliling ke banjar-banjar. Biasanya kegiatan ini dilakukan pada hari sabtu dan minggu pagi agar tidak mengganggu kegiatan di kampus. Biasanya kita berkumpul dulu Rumah Sakit Hewan (RSH) Sesetan sebelum menuju desa yang akan diadakan vaksinasi. Setelah pembagian tugas di RSH, kami bersama-sama berangkat menuju kantor desa yang bersangkutan lalu dari petugas desa akan mengantar tiap-tiap kelompok menuju banjar masing-masing.
Banyak pengalaman unik, lucu dan menyenangkan yang saya dapatkan selama mengikuti kegiatan ini. Mulai dari nama-nama anjing yang lucu, aneh hingga ajaib; trus pengalaman mendapatkan pasien yang galak dan sulit ditangani; pemilik anjing yang takut dengan anjing peliharaannya hingga berkunjung ke tempat-tempat yang belum pernah saya bayangkan.
Soal nama anjing, ada yang namanya ayu (kebetulan waktu itu saya bertugas dengan adik kelas yang namanya Ayu juga) jadi waktu itu Ayu yang bertugas mendata pasien menanyakan nama anjing yang mau divaksin dan begitu si pemilik menyebutkan namanya ayuk wajahnya Ayu (adik kelas saya) langsung cemberut
trus ada juga nama anjing yang umum adalah dogy dan brownie (entah itu anjingnya berwarna putih, coklat, hitam ataupun warna-warni tetap aja dikasi nama brownie)
begitu juga dengan nama anjing Blacky (untungnya ga ada tambahan djarum di depannya jadi Djarum Black hehehe)
Kebanyakan anjing yang saya dan teman-teman tangani sih nurut aja sewaktu divaksin tetapi ada juga yang galak dan sulit ditangani walaupun sudah dihandle oleh pemiliknya. Apalagi tampang anjingnya sangar dan dari jenis Rotweiler atau German Sheepherd.. ada juga pemilik yang takut menghandle anjingnya, pernah waktu itu ada suami-istri bawa anjingnya ke banjar buat divaksin nah pas giliran anjing mereka divaksin dan tidak mau diam suami-istri tersebut malah saling nyuruh “gini lho caranya biar si guk-guk diem” tapi keduanya ga ada yang berani megang anjingnya.. Ada juga pemilik anjingnya yang takut sama jarum suntik malah buat susah sewaktu saya memvaksin anjingnya. Sekilas kejadiannya seperti ini.
“Bli, anjing saya ini ga bisa diem lho tapi udah sering divaksin kok.”
“Ya, ga apa-apa mbak. Tolong dipegang sebentar ya ga lama kok”
“tuh khan anjingnya ga mau diem” (padahal menurut saya sebenarnya anjing jenis Peking Mix miliknya itu mudah dihandle). “guk-guk tenang yach.. ga sakit kok.. Cuma kayak digigit semut”, kata pemiliknya lagi
Karena anjingnya ga mau diam juga, saya akhirnya memberi tau gimana cara pegangnya biar anjingnya mau diam. “Gini lho mbak caranya” kata saya sambil memperagakan sesuai materi Restrain yang saya dapatkan pada mata kuliah Diagnosa Klinik.
Setelah coba dipraktekkan sama yang punya, “awas salah suntik bli, nanti bisa-bisa tangan saya yang kena suntik. Saya ini takut ama jarum suntik.”
Astaga.. Ternyata masalahnya bukan anjingnya yang susah dihandle tetapi itu pemiliknya yang takut ama jarum suntik, pantesan aja setiap saya mau suntik anjingnya malah dia yang ga bisa diam dan anjingnya jadi ikutan tegang…
Yup, itulah sekilas pengalaman saya ketika ikut sebagai rabies terminator, sebenarnya sih masih banyak yang ingin saya ceritakan tapi kok rasanya jari ini udah pegal ngetik yach? Hehehe
Nb: berhubung acara Djarum Black Blog Competition Vol.2 udah berakhir, saya mohon dukungan teman-teman buat vote blog saya di http://autoblackthrough.com/blogcompetition/index.php?page=voteform&id=80
No comments yet